Ramaditya menulis KOPDAR dengan Wongkito

Enam tahun sudah sejak terakhir kali aku datang ke kota ini, dan akhirnya, waktu membawaku kembali ke tempat ini. Melalui roadshow motivasi “Breaking the Limits” yang digelar Dompet Dhuafa, aku kembali menyambangi sebuah kota yang sarat akan kenangan dan pengalaman berharga. Sebuah kota yang pernah mengguratkan makna mendalam di masa laluku, di mana manis dan pahit bercampur membumbui jalan hidupku. Sebuah kota yang kala itu jadi saksi bisu janjiku, bahwa suatu hari aku akan kembali untuk mempertaruhkan harga diriku, kembali sebagai manusia baru yang jauh lebih baik, lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih maju. Ya, inilah ibukota Sumatera Selatan yang terkenal dengan panganan empek-empeknya. Palembang…akhirnya aku kembali…!

Masih seperti roadshow sebelumnya, perjalananku kali ini didampingi oleh Mbak Dona sang manajer dan Mas Shofa sang juru tuntun, keduanya dari Dompet Dhuafa Jakarta. Dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia, kami meninggalkan Jakarta tepat pukul 11:00 WIB dan tiba di Palembang kira-kira 45 menit setelah lepas landas. “Palembang, aku datang…,” bisikku lirih saat burung besi yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Setelah membereskan barang bawaan dan sedikit ber-narsis ria (baca: foto-foto) di depan papan ucapan “Selamat Datang di Palembang” yang terpampang di ruang tunggu bandara, aku dan rombongan pun menuju ruang kedatangan, di mana sudah menunggu Mas Asep Surya yang bertugas menjemput kami. Mas Asep adalah salah satu anggota Dompet Sosial Insan Mulia (DSIM), mitra kerja Dompet Dhuafa untuk kawasan Palembang dan sekitarnya.

“Wah, barang-barangnya banyak nian, Mas! Niat mau tinggal disini ya,” kelakar Mas Asep sambil menuntunku ke mobil jemputan. “Oh, kalau ada alasan kuat yang bisa bikin saya tinggal disini, kenapa tidak,” sahutku menimpali pria yang selanjutnya menjadi pendampingku selama di Palembang itu. Tawa dan canda pun mengisi perjalanan kami, hingga akhirnya sekitar 15 menit kemudian kami tiba di Hotel Sahid Imara tempat kami menginap.

Show 1: Gramedia

Tanpa menunggu dan beristirahat lagi, aku dan rombongan segera bersiap untuk acara motivasi kami yang pertama, yaitu di Toko Buku Gramedia yang terletak di Jl. Kol. Atmo No.45, Palembang. “Ini pertempuranku yang pertama,” bisikku dalam hati seraya mengenakan kostum Jedi milik Anakin Skywalker dan memanggul lightsaber hijau milik putranya, Luke Skywalker. “Mari berangkat, wahai ksatria,” ucap Mas Asep setelah melihatku selesai mengenakan kostum dan langsung membimbingku ke mobil.

Sekitar pukul 14:00 WIB, acara pun dimulai. Dengan dituntun Mas Asep, aku naik ke panggung kecil yang sengaja ditempatkan di lantai dua toko buku tersebut. Dengan senyum paling manis, kuanggukkan kepala tanda hormat pada pengunjung yang siap mengikuti acara siang itu.

Sepanjang acara, aku bercerita tentang keluarga dan lingkunganku yang begitu menyayangi dan mencintaiku, yang telah memberikan segalanya demi kemajuanku, hingga aku bisa seperti sekarang. Aku juga menuturkan kisah remajaku yang sarat akan perjuangan di bangku sekolah dan kuliah. Kututurkan pada mereka bahwa dalam kondisiku yang seperti sekarang, adalah sebuah hal yang tidak mudah untuk dapat bersekolah, berkuliah, apalagi mendapat pekerjaan dan cinta yang layak. Bukan perkara kecerdasan atau keterampilan, tapi karena orang-orang sudah keburu membatasi pergerakan kami saat mengetahui bahwa kami memiliki kekurangan secara fisik.

Lalu bagaimana solusinya? Yang terpenting, menurutku, adalah tekad dan kemauan keras dari si penyandang cacat itu sendiri. Mungkin akan terasa jauh lebih sulit berjuang tanpa fasilitas dan dukungan, tapi tidakkah akan lebih mudah bila kita, dengan tekad dan kemauan yang ada, terus berjuang dan mengejar impian, hingga akhirnya fasilitas dan dukungan itu dapat kita peroleh? Itulah yang menjadi inti utama sharing siang itu.

Respon positif pun bermunculan dari pengunjung. Ada yang menuturkan pengalaman sahabatnya yang tunanetra, yang ternyata telah sukses menjadi seniman. Ada pula seorang ibu guru yang tergerak hatinya untuk mendidik anak asuhnya — kebetulan juga tunanetra — dengan lebih baik lagi. Pokoknya, siang itu benar-benar menjadi siang yang penuh hawa positif!

Sebelum pulang, aku dan teman-teman diundang ke ruang atas menemui Pak Budi, salah satu pejabat tinggi Gramedia Palembang yang kabarnya telah menelurkan banyak buku. Sambil berfoto dan makan siang, beliau memberi motivasi padaku untuk kembali menulis buku, dan melebarkan sayap dengan mencari penerbit yang lebih besar lagi. “Iya, supaya bukunya merata dan banyak orang yang tahu,” ujarnya mantap.

Show 2: ON-AIR di Radio

Malam harinya, aku diundang talk show di dua radio sekaligus, Trijaya FM dan Smart FM. Materi yang dibicarakan kira-kira seputar siapa diriku, apa saja yang aku kerjakan, dan tentu saja, hal unik yang pastinya tak pernah terbayangkan pernah dilakukan oleh tunanetra.

Saat siaran di radio Trijaya, aku didampingi oleh Mbak Dina, penyiar bersuara lembut yang juga bertugas menjadi MC acara motivasi “Breaking the Limits” yang digelar esok harinya. Sedangkan ketika mengudara di Smart FM, aku berduet dengan Mas Danniel, salah seorang broadcaster kondang yang dengan canda dan celotehnya menjadikan ON-AIR malam itu terasa renyah dan segar, penuh dengan motivasi dan optimisme.

Nah, siaranku yang terakhir adalah bersama teman-teman dari Warastra FM, yang diadakan keesokan harinya setelah “Breaking the Limits” usai. Dipandu oleh beberapa kru Warastra, aku dan Mbak Lana sang penyiar asyik ngobrol seputar acara motivasi “Breaking the Limits,” yang boleh dibilang berhasil menghangatkan Palembang dan sekitarnya. “You’ve got nice voice, and you may become a nice announcer,” puji Mbak Lana seusai siaran. “Well? I am,” candaku sambil asyik berpose untuk sesi foto-foto narsis penutup perjumpaan kami.

Nah, kita kembali ke malam hari seusai siaran di Trijaya dan Smart FM. Menutup tugasku hari itu, rekan-rekan DSIM mengajakku makan malam di area GOR (Gedung Olahraga), yang merupakan salah satu tempat “nongkrong” paling asyik di Palembang, di mana banyak penjaja makanan dan kafe-kafe tenda bertebaran dan siap menerima pengunjung. Diiringi musisi jalanan yang melantunkan lagu-lagu khas Palembang, kami berbincang-bincang seputar acara puncak yang akan digelar besok, acara yang boleh jadi merupakan pertempuran terbesarku di Palembang.

Show 3: The Final Battle at TELKOM Palembang!

Aku berdiri tegak di tengah-tengah kamar hotel yang sunyi dan lengang. Ya, hanya aku di sana, tanpa ditemani siapa pun. Aku telah siap dengan lightsaber tergenggam di tangan, lengkap dengan kostum Jedi Knight berwarna putih yang merupakan ciri khasku setiap kali tampil sebagai pembicara.

Setelah mengatur napas dan menenangkan diri beberapa saat, aku mengambil posisi kuda-kuda dan menyalakan lightsaberku. Desisan suara lightsaber segera terdengar, dan aku berdiri diam selama kira-kira lima menit. Aku pun menutup mata dan berkonsentrasi ke satu titik. Sebuah titik bernama fokus, yang selanjutnya kuarahkan untuk mengingat sebuah pesan dari orang terdekat setelah kedua orangtuaku. Dialah guruku, Jedi Master Listria, yang kutemui sebelum keberangkatanku ke Palembang. “Jedi Knight Ramaditya, di pertempuranmu kali ini, kuminta kau lebih serius dan bijaksana. Kalau bisa, kurangi sedikit senda guraumu, dan tampilkan wibawamu. Ingat, ini pertempuran terbesarmu…,” pesan sang Jedi Master.

Setelah berdo’a sebentar, mohon bantuan Allah dan minta restu kedua orangtuaku, aku pun menarik napas panjang dan menghembuskannya seraya menetapkan diri. “Aku siap!” Bersamaan dengan teriakan itu, kutebaskan lightsaberku enam kali, membentuk sebuah rangkaian gerak serangan dan bertahan, yang menjadi simbol bahwa aku siap beraksi hari ini. Ya, aku siap bertempur hari ini…!

Tepat pukul 09:00 WIB, aku pun tiba di gedung TELKOM SUMBAGSEL, tempat di mana roadshow “Breaking the Limits” digelar. Sambil menunggu saat-saat paling penting pagi itu, aku ngobrol bersama rekan-rekan DSIM yang bertugas di meja registrasi, dan beberapa perwakilan dari media massa yang bertugas meliput acara pagi itu. Waktu pun terus berjalan, makin lama makin mendekati saat di mana aku akan melangkah masuk ke ruang acara. Jam berganti menit, dan menit-menit itu terus bergulir, hingga menyisakan lima menit…empat menit…tiga menit…dua menit…satu menit…dan, akhirnya pintu ruangan tempat acara berlangsung pun dibuka dan aku melangkah masuk!

Dengan langkah tegap dan penuh semangat, diiringi musik pembuka film Star Wars, aku berjalan seraya memberi salam ke seluruh pengunjung yang langsung menyambutku dengan tepuk tangan meriah. Sekitar 100 orang pengunjung — rata-rata anak muda — telah memadati area acara, dan mereka terus bersorak sorai hingga aku berdiri tepat di hadapan mereka. Aku pun menyahut dengan menyalakan lightsaber hijau yang segera menyalak dengan suara dengungnya yang garang. Sambil menggenggam erat lightsaber yang berpijar terang di tangan, aku menunduk hormat dan memberi salam kepada pengunjung, dan acara motivasi pun dimulai!

Ada pun materi yang diberikan sama dengan yang pernah kusampaikan di kota-kota sebelumnya. Hanya saja, kali ini aku memberikannya dengan lebih tenang, bijaksana, dan penuh wibawa. Ya, karena kutahu di antara puluhan pengunjung di ruangan itu, beberapa pasang mata yang merupakan milik orang-orang dari masa laluku tengah mengamatiku dengan seksama, dan merekalah alasan kenapa aku ingin bertempur hingga sejauh ini.

Inti dari “Breaking the Limits” sendiri adalah menembus keterbatasan pada diri kita, apa pun bentuknya, dengan mensyukuri apa yang kita miliki, menegaskan niat untuk hidup dengan baik, kemudian merealisasikannya dalam bentuk tindakan positif. Dan, bila saja semua usaha kita menemui kegagalan, maka saatnya untuk berserah diri dan minta pertolongan kepada Tuhan…

“Teman-teman,” sapaku sebelum melanjutkan, “itulah yang selama ini coba saya lakukan. Saya berharap dengan adanya acara semacam ini dapat membuka mata masyarakat, khususnya tentang kami, orang-orang yang punya limit tapi tetap berusaha untuk breaking the limit. Saya berharap nantinya saya dan teman-teman senasib akan memperoleh pendidikan yang layak, pekerjaan yang layak, perlakuan sosial yang layak, dan juga cinta yang layak,” tuturku panjang, mengakhiri sesi motivasi hari itu.

Saat sesi muhasabah berlangsung, suasana haru pun menyelimuti seisi ruangan. Inilah untuk pertama kalinya aku ikut menangis bersama seluruh peserta. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya kupanjatkan kepada Allah atas pertempuran indah hari ini, dan tentu saja, untuk teman-teman baruku yang saat itu ikut menangis bersamaku.

Seusai acara, kami pun berfoto bersama. Aku juga menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan sebagian besar peserta. Mereka datang dari berbagai organisasi dan lembaga, bahkan banyak dari mereka — siswa Akademi Perawat — yang sengaja bolos dan rela diskors hanya untuk ikut acara ini. Luar biasa!

Untuk merayakan keberhasilan roadshow “Breaking the Limits” di Palembang, kami makan siang di restoran Al-Hijrah, yang menjadi saksi bisu ludesnya dua porsi sup iga olehku! Kami pun menggelar evaluasi seputar pelaksanaan roadshow kali ini, dan disitulah aku berkenalan dengan anggota-anggota DSIM yang lain, seperti Mbak Dessi, Mbak Herda, serta Mas Adi yang merupakan ketua DSIM. Oh ya, tak ketinggalan aksi Mbak Dona dan Mas Shofa yang seperti biasa selalu “menghabisiku” setiap kali usai roadshow dengan cara mengerjaiku lewat lelucon-lelucon konyol yang aku sendiri juga menikmatinya.

Kopdar Bareng WONGKITO.NET

Berikutnya adalah sesi KOPDAR (Kopi Darat) bersama komunitas blogger Palembang yang menamakan diri mereka WONGKITO, dengan alamat blog www.wongkito.net. Bersama Mas Jafis dan anggota WONGKITO yang lain, kami menghabiskan sore itu dengan ngobrol seputar blog dan aktivitas WONGKITO.

Rupanya, komunitas yang sudah berdiri kurang lebih dua tahun ini juga menjadi salah satu corong keberhasilan roadshow “Breaking the Limits,” karena mereka juga ikut mempublikasikan acara tersebut lewat blog mereka.

Sayang, tak banyak anggota WONGKITO yang hadir sore itu. Namun, kami telah sepakat untuk bertemu lain waktu, lewat acara yang barangkali akan dikhususkan untuk membahas seputar blog. OK, siapa takut!?

Aku Terluka!

Sepertinya Palembang tak ingin membiarkanku pulang dengan kemenangan penuh, pasalnya saat aku tengah berjalan-jalan dengan salah seorang teman — menggunakan motor — kami menabrak sebuah batang pohon di pinggiran jalan. Saat itu mungkin kawan yang memboncengku tidak menyadari batang pohon yang melintang di pinggiran jalan (posisi motor memang terlalu ke pinggir saat itu), dan resmilah batang hidungku menghantam batang pohon hingga bocor dan mengucurkan darah segar.

Sambil mengusap darah yang terus mengucur dan menahan rasa sakit yang kian hebat menjalar di mukaku, kucoba menahan tubuh rekanku yang saat itu terluka tangan kirinya, jadi ia tak lagi dapat mengendarai motornya. Dengan dibantu ojek setempat, kami pun dilarikan ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit terdekat.

Saat terbaring di rumah sakit, aku pun terdiam dan memikirkan apa yang telah terjadi padaku. Mungkin ini merupakan bentuk teguran Allah, pasalnya saat itu memang aku keluar hotel tanpa sempat minta ijin terlebih dahulu dengan rekan-rekan Dompet Dhuafa. Kedua, mungkin ada maksud tersembunyi yang Allah ingin laksanakan padaku yang aku sendiri tak paham, dan aku berusaha untuk berpikir positif tentang hal itu. Ya, apa pun, aku percaya Allah bermaksud baik padaku, dan suatu hari aku pasti akan memahami maksud tersebut.

Sambil menahan sakit akibat jahitan yang dipahatkan di mukaku, aku mendengarkan wejangan dari Mbak Dessi yang saat itu mengingatkanku untuk lebih hati-hati dan lebih dekat lagi kepada Allah, karena Allah-lah zat yang tak pernah meninggalkan kita, dan di saat ini seharusnyalah aku lebih mendekatkan diri dan menyebut namanya. “Makanya jangan nakal, bandel sih,” seru Mbak Herda yang tiba-tiba sudah muncul di sampingku.

Meski masih terguncang akibat kecelakaan tersebut, tim Dompet Dhuafa dan DSIM tetap melaksanakan rencana semula, walau agak tertunda, yaitu membawaku ke restoran River Side, sebuah restoran terapung yang terletak di sungai Musi. Kami pun menutup perjalanan roadshow dengan makan dan foto bersama (baca: aku makan dengan bibir jontor dan berfoto dengan perban melintang di muka).

Sampai Jumpa Lagi!

Palembang… Sungguh perjalanan kali ini akan kembali menjadi salah satu cerita hidup yang tak akan pernah kulupakan. Dulu, aku pernah datang ke kota ini sebagai manusia yang tak punya apa-apa. Sekarang, meski aku telah jauh lebih baik, namun ternyata masih banyak pertempuran dan perbaikan yang harus kulakukan. Meski berhias luka dan harus rela menerima julukan “Rama Codet” dari Mas Shofa, dan terlepas apakah orang-orang dari masa laluku melihat perubahanku atau tidak, yang jelas aku telah membuktikan dengan sebaik-baiknya, bahwa aku telah berhasil menjadi manusia yang lebih baik, dan kali ini, aku pun berhasil membuktikan pada diriku bahwa aku mampu memenangkan pertarungan ini!

Salam manis untuk semua rekan-rekan Dompet Dhuafa, DSIM, penyiar dan pendengar radio yang kusambangi, peserta “Breaking the Limits,” anggota WONGKITO, serta tak ketinggalan batang pohon yang telah mengguratkan “codet” di mukaku berikut dokter dan suster yang telah merawat “codet” tersebut! Suatu hari, aku akan kembali…!

“Till we meet again!!!”

Kupipes dari blog Ramaditya.. DISINI

Tag: , , ,

5 komentar untuk “Ramaditya menulis KOPDAR dengan Wongkito”

  1. xönkêt™ berkata:

    Baca dari awal sampai akhir *dengan seksama*, tampak rekan RAMA ini pandai memainkan kata dalam arti positif. tulisan yang indah dengan alur cerita yang enak “disantap” alhasil saya berhasil “dibuai” dengan keharuan, kelucuan dan optimisme.

    Satu kata untuk ini semua SUBHANALLAH…

  2. jafis berkata:

    iyo mang… orangnyo lemak diajak ngobrol, cerdas dan Humoris…

  3. Ramaditya Skywalker berkata:

    Lemak? Apo iku artinyo?

  4. regif berkata:

    yach..

    teguran dr Allah ya…

    sorry

  5. regif berkata:

    http://www.ramaditya.com .

Tinggalkan komentar